×
BerandaBeritaTrisakti di Tangan Kader Gerindra: Danang Wicaksana Sulistya

Trisakti di Tangan Kader Gerindra: Danang Wicaksana Sulistya

SAWAHMAYA – Jakarta, 13 Februari 2026. Pembicaraan mengenai Soekarnoisme biasanya lebih sering muncul di partai-partai nasionalis yang secara historis dekat dengan PDI Perjuangan. Namun dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah kemenangan Prabowo Subianto pada Pemilu 2024, wacana itu justru menguat di tubuh Partai Gerindra. Salah satu tokoh yang paling lantang menjelaskan hubungan Gerindra dengan ajaran Bung Karno adalah Danang Wicaksana Sulistya, anggota DPR RI Fraksi Gerindra yang juga Ketua DPD Gerindra DIY.​​

Dalam podcast Gaspol! yang tayang di kanal YouTube Kompas.com, DWS secara gamblang menyebut bahwa Partai Gerindra adalah partai yang sangat menjunjung nilai-nilai Soekarnoisme. Ia menjelaskan bahwa prinsip Trisakti berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan bukan hanya dikutip dalam pidato, tetapi tertulis jelas di Bab 3 Pasal 9 Anggaran Dasar Partai Gerindra. Bagi DWS, keberadaan Trisakti dalam AD/ART adalah bukti bahwa Gerindra menempatkan warisan pemikiran Bung Karno sebagai panduan ideologis, bukan sekadar ornamen retoris.​​

Penjelasan DWS memberi konteks baru terhadap kebiasaan Prabowo yang sering mengutip pemikiran Bung Karno dalam berbagai pidato. Selama ini, banyak pengamat melihatnya sebatas gesture simbolik untuk menarik pemilih nasionalis. Namun lewat narasi yang dibangun DWS, terlihat bahwa ada upaya sistematis di internal Gerindra untuk menjadikan Trisakti sebagai orientasi perjuangan partai, terutama dalam isu kedaulatan pangan, kemandirian industri, dan pembangunan kebudayaan nasional.​

Di titik inilah sosok DWS mulai tampak sebagai figur revolusioner dalam tubuh Gerindra. Ia membawa diskursus ideologis ke ruang publik dengan cara yang relatif jernih, menghubungkan pasal-pasal dalam AD/ART dengan program konkret yang sedang dan akan dijalankan pemerintahan. Dalam pembahasannya, DWS menyinggung bagaimana Prabowo mengingatkan para kader bahwa kemenangan politik justru adalah “ujian kemenangan”: fase berbahaya ketika godaan untuk bermain-main dengan APBN dan kekuasaan bisa menggerus idealisme.​

Prabowo, menurut DWS, berulang kali menekankan bahwa kader tidak boleh main-main dengan anggaran negara dan harus fokus pada program-program kerakyatan, seperti peningkatan gizi nasional. Dari sini, narasi Trisakti diterjemahkan menjadi program nyata: kedaulatan pangan, swasembada, dan pembangunan infrastruktur dasar yang menyentuh rakyat kecil. DWS tampil sebagai salah satu penyambung pesan ini di Komisi V DPR RI, yang membidangi infrastruktur, transportasi, dan perumahan.

Sisi lain dari upaya “revitalisasi Soekarnoisme” di tangan DWS adalah penekanan pada konsep “Paradoks Indonesia”. Ia menggambarkan Indonesia sebagai negara kaya yang masih mengalami kebocoran dan salah urus sehingga rakyat belum menikmati kesejahteraan yang semestinya. Paradoks ini, bagi DWS, menjadi alasan mengapa kader Gerindra tetap solid meski partai dan Prabowo sempat berkali-kali kalah dalam Pemilu Presiden.​

Dari perspektif politik kader, narasi Trisakti dan Paradoks Indonesia ini menjadi semacam “bahan bakar ideologis” yang menjaga militansi. DWS menyebut adanya pendidikan kader yang disiplin di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, sebagai ruang pembentukan karakter dan pemahaman ideologis. Di sana, nilai-nilai seperti cinta tanah air, keberpihakan pada wong cilik, serta pentingnya akal sehat (common sense) dalam mengambil keputusan terus ditanamkan.​

Menariknya, DWS tidak berhenti pada tataran ideologi besar. Ia menghubungkan nilai-nilai itu dengan pesan-pesan praktis Prabowo kepada para kader: pemimpin dianggap berhasil bila “wong cilik” sudah bisa tersenyum karena kebutuhan hidupnya terpenuhi; jika bisa membantu banyak orang, bantulah; jika tidak mampu, minimal jangan menyusahkan orang lain. Pesan-pesan sederhana ini menunjukkan bagaimana Trisakti diterjemahkan menjadi etos kerja sehari-hari.​

Dengan kapasitasnya menjembatani bahasa ideologi dan bahasa praktis kebijakan, DWS memainkan peran penting dalam memodernisasi cara Gerindra berbicara kepada publik. Ia tidak hanya mengulang jargon, melainkan menjelaskan struktur berpikir di balik kebijakan, dari normalisasi sungai di Sumatera hingga penguatan kawasan transmigrasi sebagai lumbung pangan nasional. Kombinasi antara kedalaman ideologis dan fokus pada isu teknis pembangunan inilah yang membuat perannya terasa berbeda.

Dalam konteks regenerasi partai, kehadiran sosok seperti DWS menunjukkan bahwa Gerindra tidak sekadar mengandalkan figur karismatik di puncak, tetapi juga sedang menyiapkan barisan kader yang mampu merawat dan mengembangkan garis ideologis partai ke depan. Bila tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin Danang Wicaksana Sulistya akan menjadi salah satu wajah baru Soekarnoisme versi Gerindra di era pemerintahan Prabowo Subianto.


Artikel Terkait

Author Sawah Maya
Author Sawah Mayahttps://sawahmaya.com
Penulis, Editor dan Publisher

#Sedang TrendingHot